BERSYUKURLAH

Bookmark and Share

Diposkan oleh Sepriadi

Jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini, jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku ?
Philip M.Hartner, MD dari Fakulltas Kedokteran Stanford University Amerika serikat, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini.
Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari :
57 orang Asia
21 orang Eropa
14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
8 orang Afrika
52 perempuan
48 laki-laki
80 bukan kulit putih
20 kulit putih
89 heteroseksual
11 homoseksual
6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak memenuhi standard,
70 orang tidak dapat membaca,
50 orang menderita kekurangan gizi,
1 orang hampir meninggal,
1 orang sedang hamil,
1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi,
1 orang memiliki komputer.


Pemerintah Thailand Galakkan Tes HIV, Sasar Kaum Gay, Transgender dan PSK

Bookmark and Share

Diposkan oleh Sepriadi

Bangkok, Selama satu dekade lebih penyebaran human immuniodeficiensy virus (HIV) di Thailand merambat cepat di antara kaum gay, transgender maupun pekerja seks laki-laki. Meningkatnya penyebaran HIV ini dipicu maraknya penggunaan obat-obatan terlarang dan menjamurnya pesta seks di Thailand.

Bahkan para ahli mengatakan HIV di Thailand sudah menjadi epidemi, setingkat dengan Afrika. Pemerintah Thailand pun mulai memberlakukan aturan untuk mengampanyekan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dikalangan gay, transgender dan pekerja seks laki-laki dengan mendorong komunitas-komunitas tersebut untuk menjalani tes darah secara gratis.

Frits Van Griensven salah seorang peneliti HIV dan penasehat palang merah Thailand mengatakan ini merupakan sebuah langkah besar pemerintah Thailand untuk melawan epidemi HIV, terutama bagi kelompok minoritas.Pasalnya, Thailand menjadi salah satu negara yang berhasil membendung HIV pada dekade 1990an, namun semakin turun karena tak mampu menjangkau kelompok minoritas.

"Pemerintah telah mengambil sikap dalam melawan epidemi ini dan berdiri bersama hak-hak penduduk minoritas. Saya pikir ini adalah langkah besar." ujarnya dilansir Reuters dan ditulis Senin (6/10/2014).

Ia juga mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir pemerintah Thailand sudah mulai serius dan fokus menangani penyebaran HIV di kelompok minoritas. Langkah besar pun dilaksanakan Maret tahun lalu dengan dipublikasikannya anjuran-anjuran khusus untuk mencegah penularan HIV di kalangan gay dan trangender.

"Ini sedikit lamban, tapi setidaknya ini lebih baik dari pada tidak sama sekali," kata Van Griensven lagi.

Ini Kunci Hindari Sakit Ginjal Kronik

Bookmark and Share

Diposkan oleh Sepriadi



shutterstock - Ilustrasi metode cuci darah.

KOMPAS.com - Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan penyakit yang sangat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Pasalnya, jika fungsi organ "pembersih racun" ini sudah menurun, seseorang perlu "membersihkan" racun dari tubuhnya dengan cara hemodialisis atau pun countinous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). Padahal, kedua cara itu dikenal membutuhkan biaya yang mahal dan sangat merepotkan.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Dharmeizar mengatakan, sekali melakukan hemodialisis biaya yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 850 ribu di rumah sakit tipe C. Sementara dalam sebulan dibutuhkan delapan kali hemodialisis. Adapun CAPD, bisa dilakukan sendiri di mana saja, namun sehari butuh empat kali dengan masing-masing menggunakan dua liter cairan khusus.

"Bayangkan betapa repotnya untuk membawa delapan liter cairan sehari? Dan ingat, peritoneal dialysis perlu dilakukan di tempat yang steril sehingga alat-alat pun harus disterilkan terlebih dulu sebelum melakukannya," kata Dharmeizar saat ditemui Rabu (5/2/2014) di Jakarta.

Maka, Dharmeizar menekankan pada pentingnya pencegahan dan deteksi dini dari PGK. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya PGK, serta memperlambat atau menghindari timbulnya PGK tahap akhir.

Pencegahan, lanjut dia, yaitu dengan melakukan pengontrolan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol darah, berhenti merokok. Bila ada penyakit di sistem kemih, misalnya infeksi saluran kemih atau adanya batu di saluran kemih, maka harus diobati pula untuk menjaga fungsi ginjal tetap baik.

Kendati demikian, tak dapat dipungkiri risiko PGK meningkat seiring meningkatnya usia. Dharmeizar mengatakan, usia di atas lima puluh tahun mulai berisiko terkena PGK, meskipun tidak pasti, hanya lebih berisiko.

"Apalagi jika seseorang juga menderita diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, dan adanya riwayat PGK di keluarga. Maka langkah pencegahan perlu ditambah juga dengan periksa kesehatan rutin yang meliputi periksa tekanan darah, tes urine lengkap, periksa kadar ureum dan kreatinin," paparnya.

Tekanan darah, imbuh dia, ditargetkan yaitu tidak lebih dari 140/90 mmHg, dan bagi yang juga menyandang diabetes angkanya bahkan lebih rendah lagi yaitu 140/80-85 mmHg. Sementara itu, gula darah puasa harus di bawah 110 mg/dL, dan gula darah postprandial dua jam kurang dari 145 mg/dL.

Selain itu kolesterol "jahat" atau low density lipoprotein tinggi adalah faktor risiko untuk progresi penyakit ginjal, karena itu saat pengukuran perlu dipastikan agar kadar LDL kurang dari 100 mg/dL. Serta untuk kolesterol total adalah kurang dari 200 mg/dL.

"Pemeriksaan sebaiknya dilakukan sekali dalam setahun. Namun, jika sudah dinyatakan adanya tanda-tanda penurunan fungsi ginjal, pemeriksaan perlu dilakukan lebih sering," kata Dharmeizar.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar oleh Kementerian Kesehatan 2010, faktor risiko PGK antara lain glomerulonefritis atau peradangan ginjal mencapai 13 persen, diabetes 25 persen, hipertensi 35 persen, kerusakan sel-sel ginjal 15 persen, dan penyebab-penyebab lainnya seperti nefritis lupus, ginjal polikisitik, atau nefropati urat mencapai sembilan persen.
 

Trik Daur Ulang Busana Lama

Bookmark and Share

Diposkan oleh Sepriadi

detail berita
Recycle Dress (Foto:autoevolution.com)
MUNGKIN Anda memiliki busana lama yang masih layak pakai dan terbersit untuk memberikan kepada saudara atau membuangnya. Jangan terburu-buru untuk membuangnya, Anda tidak akan pernah tahu, busana lama tersebut akan menjadi tren lagi di masa yang akan datang. Tahan sedikit dan mulailah berpikir untuk mendaur ulang pakaian-pakaian tersebut.

Dengan sedikit kreativitas dan perkakas untuk menjahit Anda bisa mengubah beberapa outfit menjadi busana yang cantik. Seperti, kemeja lama bisa Anda potong lengannya atau dibuat menjadi tas ransel. Jika memiliki baju yang sudah lusuh dan memiliki robek di sana-sini, mungkin Anda dapat membuat aksesori cantik dari bahan-bahannya.

Dikutip dari laman Times of India, berikut ini cara untuk mendaur ulang busana lama.
 
Dress iup!

Saat mengenakan gaun musim panas berwarna putih, Anda bisa me-mix and match dengan kemeja dan mengikat bagian ujungnya, sehingga menyerupai cropped jacketYou look more trendy!

Membuat perhiasan

Buatlah kalung-kalung yang unik dari bahan bekas busana, perhatikan polanya jangan sampai membuat buruk hasil kreativitas Anda. Mungkin Anda bisa membuka Google dan Youtube untuk mencari tahu bagaimana cara membuatnya.

Bermain dengan warna

Anda pasti memiliki pakaian yang warnanya sudah using, jangan dulu dibuang! Rendamlah busana tersebut di dalam air yang sudah diberi pewarna pakaian atau rendam busana tersebut dalam air panas yang mengandung garam, cuka, dan pewarna pakaian untuk mengembalikan lagi warna yang usang tersebut.

Bisa juga Anda memutihkan semua bagiannya, kemudian semprotkan beberapa warna di atas pakaian tersebut dan jadilah busana dengan warna yang baru.

sumber : Okezone